Benci dan cinta

Aku tak pernah ingin membenci siapapun walau hanya untuk sesaat. Tapi hari ini hal yang tidak pernah aku inginkan itu terjadi lagi. Seolah tidak memiliki batas akhir.

Seperti biasanya. Bapak kemaren bersikap sangat hangat. Jadi hari ini sikapnya berubah menjadi tidak hangat. Lalu esoknya atau lusa atau entah kapan, sikapnya akan kembali berubah menjadi hangat, lalu berubah lagi, terus begitu, lagi, lagi, dan lagi.

Aku tidak bisa memahaminya. Mengapa bapak selalu begitu. Dia membuat keadaan kami menjadi sulit hanya karena ingin kehidupannya seperti orang-orang yang dilihatnya. Yaitu orang-orang yang anak-anaknya sudah punya pekerjaan dengan gaji yang besar.

Dia sering sekali marah pada kami karena keinginannya itu. Bahkan hampir setiap hari. Seperti sebuah hobi. Kemarahannya secara berkala terulang. Membuat kami terpaksa harus bisa terbiasa dengan kemarahannya. Meskipun itu tidak mudah dilakukan karena kemarahannya membuat kami semua ketakutan.

Kadang-kadang aku ingin marah. Aku ingin sekali meneriakinya lalu mengatakan padanya bahwa keinginannya itu wajar jika dilakukan pada timing yang tepat. Tidak sekarang. Sebab aku dan adikku sedang menempuh pendidikan. Kami tidak bisa mewujudkan keinginannya jika kami belum lulus. Jadi bisakah bapak bersabar hingga kami lulus? Jawababnya adalah tidak.

Bapak tidak akan bisa bersabar hingga kami lulus. Bapak hanya bisa bersabar dalam hitungan hari saja. Aku berkata begitu karena kemarahan bapak selalu mereda setelah mamah memberikan pemahaman padanya. Tapi tidak untuk waktu yang lama. Selang beberapa hari bapak akan marah lagi karena hal yang sama. Itu sebabnya kami memilih berdamai dengan kenyataan dan berusaha membiasakan diri dengan keadaan.

Meski begitu, bukan berarti kami selalu baik-baik saja berada dalam kenyataan seperti itu. Tidak. Kami tidak selalu baik.

Sejujurnya kami merasa tertekan oleh rasa takut akan kemarahannya. Kami juga kadang merasa hidup kami tidak bahagia karena dia. Kami ingin kenyataan ini berakhir. Jadi kami tidak diam menerima kenyataan ini begitu saja. Kami ingin mengubah keadaan itu atau minimal menjadikannya lebih baik secara perlahan. Sebab biar bagaimanapun, kami menyayanginya.

Untuk itu, kami berusaha melakukan yang bisa kami lakukan. Salah satunya adalah dengan memberikan pemahaman yang baik pada adik-adikku agar tak ada kebencian dihatinya pada bapaknya, dan sesekali memberikan pemahaman padanya saat dia sedang dalam kondisi tidak marah.

Kami juga selalu berdoa, semoga bapak diberikan hidayah untuk menghilangkan sikap buruknya itu, karena kami tahu sebenarnya bapak itu adalah orang yang baik, dan juga menyayangi kami. Dia begitu mungkin karena dia ingin menyudahi kesalahpahaman ditempat dia bekerja dengan menyudahi pekerjaannya. Namum dia tahu bahwa dia tidak bisa melakukan itu karena dialah satu-satunya tulang punggung keluarga.

Selain itu, ada hal lain yang membuat dia bersikap begitu. Yaitu ucapan orang-orang. Dia merasa khawatir jika aku tidak bisa bertarung dalam arena persaingan mencari pekerjaan. Dia takut anaknya jadi pengangguran. Dia tidak percaya pada diri anaknya bahwa mereka bisa mendapatkan pekerjaan yang membuat dia bangga.

Aku bisa sedikit memahami kondisi itu. Tapi aku tak bisa memahami mengapa dia merisaukan masalah itu secara berlebihan. Padahal anaknya tidak menunjukan sikap pesimis dihadapannya tentang hal itu.

Aku selalu berusaha bersikap optimis meskipun aku tak menutup mata pada realita. Aku tahu bahwa persaingan mendapatkan pekerjaan saat ini sangatlah ketat. Tapi aku percaya bahwa Allah telah mengatur segalanya dengan sempurna. Jadi untuk apa aku mengkhawatirkan realita yang ada. Itu tidak akan mengubah keadaan. Lagi pula, aku bukan tipikal manusia yang bermental kerupuk.

Aku tahu apa yang harus aku lakukan. Aku tahu apa saja yang harus aku pikirkan. Aku tahu apa yang harus aku siapkan. Aku juga tahu siapa saja yang harus aku dengarkan. Yang aku tidak tahu adalah takdirNya. Tapi aku tahu bahwa Allah lebih mengetahui yang terbaik untuk hambaNya.

Oleh karena itu, aku berharap bapak bisa memahami aku dan juga adikku. Tetapi jika tidak, tak apa, kami tidak akan membencimu selamanya. Kami akan tetap menghormati dan menyayanginya sebagai seorang bapak. Karena bagaimanapun dia adalah orang tua kami. Rindhonya sangat penting untuk kami. Doanya akan memudahkan jalan hidup kami, dan bahagianya adalah bahagia kami.

Iklan

Harapanku

Aku tidak tahu akan seperti apa cerita hidupku setelah lulus kuliah nanti. Semua itu membuatku penasaran. Tidak, tapi membuatku bertanya-tanya seperti apa aku saat memasuki dunia orang dewasa.

Ya. Dunia orang dewasa. Dunia itu terdengar indah ditelingaku saat aku masih kecil. Saking indahnya aku jadi ingin sekali masa kecilku segera berakhir. Huh!

Dan kini, masa itu benar-benar sudah berakhir. Seharusnya aku bahagia, tapi tidak. Aku tidak cukup bahagia. Aku bahkan malah merindukan masa-masa kecilku. Sungguh! Aku pikir jika aku bisa memutar waktu, aku ingin kembali jadi anak kecil. Tapi itu tidak mungkin. Jadi, tidak ada gunanya bagiku mengingat masa-masa kecilku lagi jika hanya akan membuatku berharap bisa kembali ke masa itu. Bahkan jika reinkarnasi itu benar-benar terjadi.

Hmm.. aku tidak tahu seperti apa seseorang bisa dikatakan dewasa. Yang aku tahu bahwa aku belum cukup dewasa saat ini meski usiaku sudah mendekati seperempat abad. Aku masih merasa menjadi anak-anak dalam segala hal. Aku belum bisa dengan baik mengurus hidupku. Bahkan untuk hal kecil sekalipun, seperti mengatur pola makanku dan menjaga kesehatanku. Aku masih membutuhkan bantuan mamah.

Dan aku pikir, aku tidak akan bisa mengurus hidupku sendiri dengan baik jika aku tidak diberi kesempatan untuk mengurus hidupku sendiri. Aku berpikir begitu karena aku melihat teman-temanku yg lebih dulu hidup mandiri karena bekerja ditempat yg jauh dari rumah, mereka bisa mengurus dirinya dengan baik. Atau teman-temanku yg sudah lebih dulu menikah, mereka bisa bertanggung jawab terhadap hidupnya dan hidup keluarganya. Padahal usia mereka tidak jauh berbeda denganku, tapi mereka bisa melakukannya dengan baik.

Mereka bisa melakukannya karena suatu keharusan. Keadaan yg memaksa mereka, sehingga mau tidak mau mereka harus bisa melakukannya, sesulit apapun itu, mereka harus belajar, tidak ada pilihan lain, sampai akhirnya mereka bisa melakukannya karena terbiasa.

Aku yakin bukan hal yg mudah untuk bisa jadi terbiasa. Prosesnya pasti memerlukan banyak waktu. Tidak instan. Tidak seperti yang terlihat. Ada ritual jatuh bangun berulang kali yang hanya bisa dilakukan oleh mereka yang selalu optimis, pantang menyerah, mau belajar, mau mengakui kesalahan yg dilakukan, mau menerima masukan, mau memperbaiki kesalahan yg dilakukan, dan mau memaafkan kesalahan orang lain.

Jatuh bangunnya mereka mungkin juga ada yg mengalami hal yg sama dengan yg sedang aku rasakan saat ini. Saat dimana aku merasa tidak mengenali diriku sendiri dengan baik. Aku tidak tahu pasti apa yg aku inginkan, apa yg aku tuju, dan apa yg aku miliki. Yang aku tahu hanyalah harapanku saja.

Aku berharap setelah lulus kuliah nanti, aku akan mendapatkan pekerjaan yg sesuai dengan kemampuanku. Pekerjaan yg bisa mencukupi kebutuhan hidupku dan keluargaku. Pekerjaan yg bisa membuat orang tuaku bangga kepadaku. Pekerjaan yg tidak hanya bisa menolongku, tapi juga bisa menolong orang lain yg hidup disekitarku.

Selain itu, aku juga berharap, aku bisa merasakan perasaan saling mencintai. Aku berharap kisah cintaku akan indah. Tidak bertepuk sebelah tangan. Tidak juga menunggu lama. Aku ingin kisah cintaku tidak hanya indah seperti di film-film drama korea, tapi juga indah dimataNya.

Aku berharap harapanku jadi kenyataan. Tidak, aku sangat menginginkan harapan itu benar-benar menjadi nyata. Aku menginginkannya karena aku ingin membahagiakan hidup keluargaku, terutama mamah dan bapakku, namun tanpa mengorbankan kebahagiaanku. Sebab, aku tak bisa bahagia jika mereka tidak bahagia.

Semoga harapanku Engkau wujudkan ya Allah.. amiiin ya rabbal alamin..

Impian Almera

Namanya fuji rahma biasa dipanggil fuji. Dia adalah siswa kelas 12 di MA Nusantara yang sebentar lagi lulus. Saat ini dia sedang asyik berbincang-bincang dengan teman-teman terdekatnya di kelas. Ada Almera, Tika, Kayla, dan Tata. Mereka membicarakan rencana mereka setelah lulus.

“Nikah ajalah” celetuk Tata sambil tertawa. “Tapi sama siapa ya?” guraunya.

“Dasar jomblo” sahut Almera.

“Kalo gitu kuliah aja deh” ujar Tata. “Tapi di kampus yang mahasiswanya ganteng-ganteng” tambahnya sambil terkekek.

“Mau kuliah atau cari jodoh?” tanya Kayla.

“Cari jodoh sambil kuliah” jawab Tata.

“Emang ada yang mau sama ente Ta?” ledek Tika.

“Tata kan cantik, pasti banyak” tukas Fuji. Tata tersenyum bangga mendengarnya.

“Tapi aki-aki semua”tambah Fuji diikuti ledakan tawa teman-temannya.

Perbincangan dilanjutkan. Tentu semakin seru karena ada celetukan diiringi gurauan yang menggelitik tawa. Begitu pun dengan siswa yang lain. Semuanya terlihat sedang asyik menikmati hari-hari terakhir di sekolah. Hal itu membuat Fuji merasa sedih, sebab Fuji tahu akan ada rindu tak bisa terbalaskan nantinya.

Tiba-tiba mata Fuji berkaca-kaca dipenuhi air mata. Dia dengan cepat menyekanya namun tidak secepat dengan mata Tika yang melihatnya. Tanpa berpikir lagi, Fuji langsung beranjak dari tempat duduknya. Dia bangkit keluar kelas. Sementara Tika tampak menahan ucapannya setelah Fuji mengatakan ingin ke kamar mandi saat beranjak keluar kelas.

Fuji ternyata belum sepenuhnya melupakan cita-citanya. Hatinya masih sangat sensitif pada berbagai hal yang mengingatkannya dengan cita-citanya. Seperti yang baru saja terjadi. Perasaannya terasa pilu ketika dia menyadari akan datangnya kehadiran kerinduan pada masa-masa sekolah yang akan segera selesai. Padahal Fuji masih ingin belajar. Itulah sebabnya Fuji ingin melanjutkan pendidikannya.

Fuji menarik nafas lalu membuangnya secara perlahan berulang kali. Dia berusaha untuk membuat suasana hatinya menjadi lebih baik. Dia tidak ingin memikirkan lagi cita-citanya.

“Aku ngga boleh kayak gini. Aku harus bisa menerima kenyataan dan mensyukuri apa yang ada” gumam Fuji dalam hati.

Setelah merapikan penampilannya, Fuji segera bergegas untuk kembali ke kelasnya. Tak lama setelah dia keluar dari kamar mandi terdengar seseorang memanggilnya. Orang itu adalah Almera.

“Kenapa ra?” tanya Fuji ketika Almera datang menghampirinya. “Kamu mau ke toilet kan?”

“Iya, Ji” jawab Almera. “Kamu buru-buru mau ke kelas?”

“Ngga sih, emang kenapa?” tanya Fuji lagi.

“Aku pengen ngobrol bentar sama kamu, bisa?” ujar Almera.

“Bisa” kata Fuji.

Almera kemudian mengajak Fuji untuk mengobrol di tepi koridor sekolah. Dia mengatakan semuanya dengan hati-hati kepada Fuji yang mendengarkannya dengan seksama. Ekspresi wajah Fuji tampak tercengang setelah Almera menyelesaikan ucapannya.

“Jadi, gimana Ji?” tanya Almera.

Fuji masih tampak bingung menjawabnya. Dia merasakan apa yang Almera rasakan. Dia sangat memahami perasaan Almera karena Fuji juga merasakan hal yang sama. Jauh dilubuk hatinya, Fuji ingin sekali mengiyakan pertanyaan Almera. Tapi dia tidak bisa melupakan semua yang telah terjadi belakangan ini. Disisi lain, dia juga tidak ingin melukai hati teman dekatnya itu dengan menolak ajakannya. Akhirnya Fuji memutuskan untuk menerima ajakan Almera.

“Boleh” jawab Fuji. “Aku juga lagi nyari beasiswa kuliah” tambahnya berbohong.

Mendengar jawaban Fuji yang menerima ajakannya, Almera merasa sangat bersyukur. Akhirnya dia menemukan seseorang yang memiliki tujuan yang sama dengannya, sehingga dia tidak berjuang sendirian.

“Makasih ya Ji, tadi aku ngajak Dita tapi ngga mau” ujar Almera.

Fuji merasa bersalah karena telah berbohong kepada Almera. Dia menerima ajakan Almera untuk memburu beasiswa kuliah bukan karena dia sedang mencari beasiswa kuliah, tetapi karena Fuji tidak ingin Almera merasakan hal yang sama dengannya. Fuji ingin Almera bisa mengambil kesempatan untuk memperjuangkan cita-citanya.

Bersambung…

 

 

 

 

 

 

 

 

Tetaplah Optimis dan Semangat

Kadang-kadang saya merasa pesimis. Apakah saya bisa melakukannya atau tidak. Saya mulai merasa ragu. Takut jika yang saya impikan tidak bisa saya capai. Saking takutnya, kepala saya jadi pening. Mungkin karena saya terlalu memikirkan ketakutan itu. Hal yang belum tentu benar terjadi.

Saat itu saya mulai bertanya-tanya. Apakah orang lain juga merasakan hal yang sama. Pesimis. Ragu. Takut.

Pertanyaan itu sangat menggelitik saya untuk mencari jawabannya. Akhirnya, saya memulai pencarian saya. Singkat cerita, setelah saya browsing di internet, membaca buku-buku, mendengarkan podcast, dan bertukar cerita dengan rekan-rekan saya, saya menemukan jawabannya.

Pada awalnya saya merasa bahwa jawaban itu sangat naif. Tapi setelah dipikir-pikir lagi, saya merasa ada benarnya juga. Tidak ada yang pasti didunia ini. Takut itu wajar. Tapi jika membuat kita menjadi lemah. Itu yang tidak wajar. Rasa takut sepatutnya dijadikan peringatan untuk kita lebih mempersiapkan diri dalam menghadapi berbagai kemungkinan yang terjadi. Bukan menghentikan kita.

Begitu jawabannya. Saya tidak mendapat jawaban “ya” atau “tidak. Artinya, ini bukan tentang apa yang kita rasakan atau orang lain rasakan. Tetapi tentang bagaimana kita dapat menjadikan yang kita rasakan menjadi yang menguatkan kita. Pun jika pada akhirnya kita tidak bisa mengubah keadaan menjadi lebih baik, menerima keadaan bukanlah berarti menyerah, malah mungkin menjadikan segalanya lebih baik. So, tetaplah optimis dan semangat.